Setan
Banyak kalangan yang menyangka bahwa dia adalah sosok yang serem, item dan jahat. Bahkan sering kali namanya disandingkan pada manusia-manusia biadab yang selalu melakukan kejahatan.
Agama pun demikian, entah ini benar atau salah, maafkan aku Tuhan, menyatakannya sebagai makhluk yang diciptakan dari api yang identik dengan sikap sombong dan “keras kepala”. Bahkan sampai ada klaim bahwa “dia (setan) adalah musuh manusia yang nyata, maka jauhilah dia”.
Jika dia (setan) sama seperti manusia; memiliki hati dan perasaan, pastilah dia akan sangat marah dan sedih. Tak bisa kita bayangkan bagaimana rasanya dikucilkan dari sebuah lingkungan gara-gara kita dianggap sebagai anak yang nakal, sedihnya… dalam kondisi dimarginalkan seperti itu, bisa saja sang anak justru tercetak menjadi pemberontak sejati. Lalu bagaimana dengan setan??? Dengan bekal kekuatan dan daya yang diberikan oleh Sang Pencipta, bukan tidak mungkin dia akan benar-benar menjadi musuh bagi umat manusia.
Keber’ada’annya seakan menjadi penjaga keseimbangan alam, ada kebaikan ada keburuka, ada hitam ada putih, ada kanan ada kiri. Seakan-akan dia tercipta untuk mengisi sisi negatif dari dunia ini. Cacian dan makian selalu di alamatkan kepadanya yang belum tentu bersalah.
Entahlah, persetan dengan anggapan itu semua. Aku hanya bisa heran pada diriku sendiri yang tak setuju dengan tuduhan-tuduhan di atas. Di telingaku, nama setan lebih mengarah pada sesosok makhluk yang polos dan jujur. Dia sering temani kesendirianku. Isi kesepianku dengan segudang permainan dan hiburan, dan aku hanya memilih satu jenis dari mainan yang dia sodorkan. Dia adalah figur teman yang setia.
Mungkin ada benarnya klaim-klaim yang selama ini ditujukan kepadanya, terkadang aku berpikir dan merasa bahwa hiburan yang ia tawarkan bukanlah sesuatu yang baik. Terkadang aku bosan dengan mainan yang kupilih itu. Tapi sesekali keinginan untuk lagi bermain dengannya datang saat kehampaan merajai jiwaku. Dan setelah itu, kembali kusadari bahwa itu bukanlah hal yang baik.
Tapi aku benar-benar salut bisa berteman dengannya. Hidupku terasa mengalir dibawanya. Dia suka menjatuhkanku saat aku mulai terbang tinggi meninggalkannya. Rupanya dia tak mau kutinggalkan. Dia tak ingin aku melupakannya, bahwa aku pernah berteman dengannya. Seakan dia ingin membisikkan, teruslah tingkatkan aktifitasmu, gapailah cita-citamu dan teruslah berusaha karena itu masih jauh.
Terima kasihku untukmu, untuk kesetiaanmu, untuk mainan-mainanmu, untuk wejangan-wejanganmu. Kaulah salah satu teman baikku. Kesetiaan dan kesungguhanmu akan kutiru untuk meraih impianku, sekali lagi TERIMA KASIH…
Jumat, 17 April 2009
poem
Pencarian
Malam ini begitu sunyi ku sendiri tanpa ada yang menemani
Ingin rasanya ku pergi tuksekedar menuruti kata hati yang tak lagi ku mengerti
Entah sampai kapan rasa ini kan berahir
Ku berharap ini hanya sebuah asa
Yang tak kan pernah menjadi nyata
Demi memperjuangkan karunia sang esa
Yang bernama cinta
(Jogjakarta, 05 Mei 2008)
Tanda tanya
Bingung….
Aku bingung
Rasa rindu telah membuatku
Bingung…
Semakin yakin aku
Akan pedihnya semua ini
Tapi anehnya
Senakin aku larut menikmatinya
Tanyaku padamu Tuhan
Apakah untuk merindu,
Aku harus melupakannya?
Apakah untuk (mendapatkan) sinar,
Aku harus lewati kegelapan?
Dan
Apakah untuk sebuah kebahagiaan,
Aku harus tumpahkan air mata?
Apakah benar demikian?
Atau bagaimana?
(Jogjakarta, 18 Mei 2006)
Adakah di dalam secercah cahaya
Terdapat setitik kegelapan?
Mungkinkah aku melupakan cahaya
Dan terbenam di heningnya kegelapan itu?
Walau hanya sejenak, dan
(itu) agar aku selalu mengaharapkan cahaya
Atau mungkin terangnya cahaya memang
Akan mengantarkan pada
Sebuah kegelapan baru
Dan selanjutnya bertemu
Dengan cahaya baru dan begitu
Seterusnya…
Tanda tanya….
(Jogjakrta, 20 Agustus 2006)
Malam ini begitu sunyi ku sendiri tanpa ada yang menemani
Ingin rasanya ku pergi tuksekedar menuruti kata hati yang tak lagi ku mengerti
Entah sampai kapan rasa ini kan berahir
Ku berharap ini hanya sebuah asa
Yang tak kan pernah menjadi nyata
Demi memperjuangkan karunia sang esa
Yang bernama cinta
(Jogjakarta, 05 Mei 2008)
Tanda tanya
Bingung….
Aku bingung
Rasa rindu telah membuatku
Bingung…
Semakin yakin aku
Akan pedihnya semua ini
Tapi anehnya
Senakin aku larut menikmatinya
Tanyaku padamu Tuhan
Apakah untuk merindu,
Aku harus melupakannya?
Apakah untuk (mendapatkan) sinar,
Aku harus lewati kegelapan?
Dan
Apakah untuk sebuah kebahagiaan,
Aku harus tumpahkan air mata?
Apakah benar demikian?
Atau bagaimana?
(Jogjakarta, 18 Mei 2006)
Adakah di dalam secercah cahaya
Terdapat setitik kegelapan?
Mungkinkah aku melupakan cahaya
Dan terbenam di heningnya kegelapan itu?
Walau hanya sejenak, dan
(itu) agar aku selalu mengaharapkan cahaya
Atau mungkin terangnya cahaya memang
Akan mengantarkan pada
Sebuah kegelapan baru
Dan selanjutnya bertemu
Dengan cahaya baru dan begitu
Seterusnya…
Tanda tanya….
(Jogjakrta, 20 Agustus 2006)
Langganan:
Postingan (Atom)